Tantangan perusahaan pembiayaan di 2019

Di tengah kelesuan ekonomi, perusahaan pembiayaan (multifinance) tetap mampu tumbuh, meskipun melandai pada tahun ini. Ada ragam tantangan yang melanda salah satu industri keuangan tersebut.

Pada September 2018, muncul kasus perusahaan pembiayaan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance) yang diduga menggunakan penjaminan dengan piutang fiktif sehingga kerugian ditaksir mencapai Rp 14 triliun. Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencabut izin delapan perusahaan pembiayaan dan membekukan sekitar.

Lantas, sejauh mana kinerja perusahaan pembiayaan tersebut? Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.012/2006 tanggal 29 September 2006 tentang Perusahaan Pembiayaan menegaskan kegiatan perusahaan pembiayaan adalah melakukan usaha sewa guna usaha (leasing), anjak piutang (factoring) , kartu kredit dan pembiayaan konsumen (consumer finance).

Sebelumnya kinerja perusahaan pembiayaan dibagi menurut lima jenis usaha yakni sewa guna usaha, anjak piutang, kartu kredit, pembiayaan konsumen dan pembiayaan lainnya. Namun sejak September 2016, kinerja perusahaan pembiayaan disajikan menurut pembiayaan investasi, modal kerja, multiguna, pembiayaan lainnya berdasarkan persetujuan OJK dan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah.

Dan memang, data OJK menunjukkan total pembiayaan hanya tumbuh 5,92% dari Rp 411,19 triliun per Oktober 2017 menjadi Rp 435,55 triliun per Oktober 2018. Pertumbuhan yang menipis dari 6,06% pada bulan sebelumnya IDN Poker.

Rinciannya, pembiayaan investasi naik cukup signifikan 16,18% dari Rp 117,19 triliun menjadi Rp 136,15 triliun dengan kontribusi 31,26% dari total pembiayaan Rp 435,55 triliun. Pembiayaan modal kerja naik tipis 3,19% dari Rp 23,52 triliun menjadi Rp 24,27 triliun (5,57%). Sedangkan pembiayaan multiguna naik 6,28% dari Rp 239,29 triliun menjadi Rp 254,32 triliun (58,39%).

Sementara itu, pembiayaan lain berdasarkan persetujuan OJK naik 5,47% dari Rp 128 miliar menjadi Rp 135 miliar (0,03%). Sebaliknya, pembiayaan berdasarkan prinsip syariah justru turun signifikan 33,42% dari Rp 31,06 triliun menjadi Rp 20,68 triliun (4,75%).

Meskipun rapor kurang menggelora, perusahaan pembiayaan mampu meningkatkan laba bersih 22,24% dari Rp 11,15 triliun menjadi Rp 13,63 triliun.